Ambon, (Bukan) Kota Para Pendatang

Hari ini adalah hari terakhir dari sesi panjang sebuah pelatihan peningkatan kapasitas yang saya ikuti sejak hari Senin, 23 Maret 2015 lalu. Sambil menghempaskan diri di sofa lobby sebuah hotel di bilangan Jl. Imam Bonjol, sejenak saya membebaskan pikiran dari rumitnya materi dan tugas pelatihan dengan mulai menikmati sebatang nikotin dan segelas kafein yang tersedia. … Read more

Kenal Komputer karena Madame Syuga*

Seingat saya, perkenalan dengan benda elektronik yang bernama komputer terjadi saat saya duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama, pertengahan tahun 1980-an. Saat itu, seorang kawan yang orangtuanya bekerja disebuah perusahaan telekomunikasi nasional, mengajak saya bermain salah satu computer game yang saat itu sedang trend, Pac-Man.

Ketika sampai di rumah kawan, ternyata permainan tersebut tidak seperti yang saya bayangkan, tidak membuat saya terkesima dan kesannya biasa saja, standard. Waktu itu, saya malah merasa sedikit ribet bermain dengan versi  komputer lantaran tidak terbiasa dengan fitur keyboard, mengingat saya dan Pac-Man telah lebih dahulu berkenalan dengan versi game console merk Atari. Singkatnya, menurut saya saat itu, komputer tidak semenarik konsol game Atari saya, Nintendo, atau perangkat permainan elektronik yang lain.

Read more

Ketika Akademisi Dipolitisasi

Tulisan ini merupakan tanggapan atas opini Aspianoor Masrie yang berjudul “Ketika Terorisme Dipolitisasi” pada Harian Tribun Timur, Edisi Cetak, Senin, 19 November 2012.

Bom 2Artikel Pak Aspiannoor Masrie tentang politisasi kasus terorisme yang terkait dengan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Selatan (Sulsel) pada harian Tribun Timur versi cetak tanggal 19 November 2012, saya kira patut mendapatkan apresiasi dan juga respon yang positif dari seluruh masyarakat Sulawesi Selatan. Secara umum pokok pikiran dalam artikel tersebut mencakup beberapa argumentasi tentang: Pertama, kegelisahan beliau atas situasi pasca peristiwa pelemparan bom kearah Gubernur Sahrul Yasin Limpo (SYL) yang menurut beliau tidak jelas karena minimnya klarifikasi dari pihak-pihak yang memiliki otoritas atas kasus tersebut, sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi opini publik terhadap kasus dimaksud. Kedua, kegelisahan atas bangun logika tentang terorisme di Indonesia yang menurut beliau tidak seperti biasanya, dimana beliau mempertanyakan kecenderungan perubahan isu, ideologi dan metodologi dari aksi teror yang terkait dengan peristiwa yang beliau beri nama Black Sunday tersebut. Ketiga, tudingan tegas beliau terhadap Tim Sukses (Timses) Sahrul Yasin Limpo-Agus Arifn Nu’mang (Sayang) yang beliau yakini melakukan rekayasa politik berbasis pencitraan yang bermuara pada pembentukan opini kepada publik bahwa SYL terzalimi.

Read more

Mempersoalkan Perkembangan Ilmu Sosial Indonesia

(Tanggapan atas opini Sdr.Syarifuddin Jurdi, Dekonstruksi Ilmu Sosial Indonesia, Tribun Timur 26 Januari 2012)

Artikel Sdr. Syarifuddin Jurdi tentang kemunduran ilmu sosial di Indonesia pada harian Tribun Timur tanggal 26 Januari 2012, patut mendapatkan apresiasi dan juga respon yang positif dari seluruh stakeholder ilmu sosial di Indonesia. Secara garis besar, pokok pikiran dalam artikel tersebut mencakup beberapa argumentasi tentang,  Pertama, lambatnya perkembangan ilmu sosial di Indonesia bila dibandingkan dengan beberapa negara berkembang yang lain. Kedua, tingginya tingkat ketergantungan akademisi dan peneliti ilmu sosial Indonesia terhadap asupan teoritis dari Barat, yang mana ketika perkembangan ilmu sosial di Barat melemah, maka proyek merumuskan diskursus alternatif ilmu sosial Indonesia, (niscaya akan) mengalami kemacetan. Ketiga,  perlu ditegakkannya kembali bangunan ilmu sosial yang berkarakteristik Indonesia. Jika dicermati sepintas lalu, maka ketiga pokok pikiran dalam artikel tersebut nampaknya linear, memenuhi syarat sebab akibat dan mungkin memang berkaitan dengan realitas sosial di Indonesia seperti yang coba dideskripsikan sdr.Syarifuddin Jurdi.

Namun menurut penulis, artikel tersebut tidaklah sepenuhnya bebas dari masalah. Terdapat beberapa  kontradiksi dalam upaya sdr. Syarifuddin Jurdi mengupas berbagai persoalan yang melekat pada perkembangan (dan pengembangan) ilmu sosial secara umum di Indonesia. Alih-alih ingin memperjelas persoalan, kupasan tersebut justru menimbulkan kebingungan dan memunculkan beberapa pertanyaan antara lain, dalam konteks apa beliau menyebutkan nama-nama seperti Ibn Khaldun, Ismail Raji Al-Faruqi, Ali Syariati, Marx,Geertz, Nakamura dan Hefner? Bukankah nama-nama itu, oleh kalangan awam saja diyakini sebagai sosok yang non-Indonesia?  Jika deretan nama itu disebut dalam konteks orientalisme dan post-kolonialisme, mengapa beliau justru mengakui  keberhasilan kerja-kerja Indonesianis yang, tentu saja mereka adalah non- Indonesia?  Selanjutnya, bagaimana bisa beliau merekomendasikan berdirinya bangunan ilmu sosial a la Indonesia sambil menggunakan atribut-atribut pemikiran post-modern Barat seperti misalnya, discourses (Foucault, 1972, 1977, 1980, 2003) dan deconstruction (Derrida, 1967)? Dari sudut tersebut, jelas tergambar sikap ambivalensi beliau.

Read more

Wirawan Tjahjadi: A man with brewing ideas

Despite the success of his family’s coffee business, Wirawan Tjahjadi hasn’t stopped to relax, but works hard developing not only his business, but also the local coffee industry.

Wirawan’s father handed him the reins of the Putra Bhineka Perkasa Company in Denpasar in 1993.

“Basically I have to be able to promote the business, both in terms of product taste and distribution. It’s true that this isn’t easy,” said Wirawan, generally called Wewe.

He took his responsibility seriously, setting out to learn everything about coffee, from the ecosystems in which it grows, to planting and harvesting, through to the final processing.

“I learned from zero, starting with the basics about coffee, up to the right way to pour boiling water on the powder. My father said that if I couldn’t distinguish the tastes of coffees and serve them, then how could I sell the product?” said Wewe, who deepened his marketing knowledge by studying at a US university.

Read more

Willard (Dub) Hay: Sourcing coffee from tree to cup.

If you look into the past, you will find that the Muslim world  not only brought Greek philosophy to the Western world, it also brought coffee.

Perhaps the most exotic of all beverages, coffee was used in religious ceremonies in ancient Africa before it was later banned by a Christian church that regarded it as “a Muslim drink”.

Coffee was also banned by the Ottoman empire in the 17th century, as it was associated with defiant political activities in Europe.

The word “coffee” is derived from the Italian word caf*, which in turn comes from the Turkish word kahveh. It is thought that the Turks adopted the word from the Arabs, who named the dark beverage quhwah, which originated from Kaffa, the ancient coffee-producing region of eastern Ethiopia.

Read more

Is it true love, or are you just drinking coffee? (Part 2, End.)

Assalamualaikum, Hi! Ketemu lagi kawan-kawan.

Dihari yang berbahagia ini, ijinkan saya terlebih dahulu mengucapkan: Selamat Merayakan Idul Fitri 1432H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Semoga kita semua  termasuk dalam golongan orang-orang yang memenangkan pertarungan dengan dirinya sendiri. Amin.

By the way, setelah bercerita soal kopi, selera, dan jenis-jenis kopi pada bagian pertama, pada edisi kali ini saya akan berbagi tentang berbagai original recipes dari Starbucks™ (fine selected) yang kawan-kawan bisa modifikasi sendiri bahannya, jika ada beberapa yang tidak ada, atau terlalu mahal dipasaran, atau bahan yang dilarang menurut keyakinan kawan-kawan.

Tetapi sebelumnya, perlu saya informasikan bahwa meskipun sumber resep Starbucks™ ini didapatkan dari sumber yang legal, library.nu, namun menurut saya, cara orang yang mengunggahnya ke library.nu tentu tidaklah legal. Karena resep-resep seperti ini sebenarnya masuk kategori A1 sama dengan resepnya Kolonel Sanders atau informasi kawat-kawat diplomatik yang dibocorkan oleh Wikileaks. Olehnya itu, saya berharap kepada kawan-kawan agar janganlah anti, berdebat, apalagi berwacana tentang hal-hal normatif yang terkait dengan resep kopi Starbucks™ ini.

Read more

Is it true love, or are you just drinking coffee? (Part 1)

Kultur café (selanjutnya disebut Warkop; Warung Kopi) telah menjadi sebuah bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia modern saat ini. Berbagai kota dihampir seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah-daerah sub-urban seperti ibukota kecamatan telah penuh dijejali oleh Warkop yang kebanyakan berada disetiap sudut dan persimpangan jalan, dan juga didalam warkop-warkop waralaba asing yang banyak menghiasi Mal dan pusat belanja ternama dibanyak kota di Indonesia..

Yup! Otomatis, kopi yang merupakan komoditas utama dari warkop-warkop tersebut juga ikut menjadi sebuah gourmet product dan bahkan menjadi sebuah fashion statement – melenakan. Berhadapan dengan sesuatu yang melenakan, penikmat kopi yang kritis (kritisisme atau sikap kritis sering juga juga dianggap sebagai sebuah identitas masyarakat modern) saat ini pasti bertanya-tanya, tentang asal-muasal dari kopi yang mereka minum, dari racikan biji kopi jenis apa saja yang digunakan, bagaimana racikan itu dicampur, dan bagaimana biji-biji kopi itu diolah. Mengapa mereka bertanya? Karena bagaimanapun juga, kita masih sering melihat banyak orang yang telah membelanjakan begitu banyak uangnya untuk sebuah racikan yang berkualitas rendah dengan campuran biji-biji kopi yang juga berkualitas low-grade.

Read more

Bonjour le monde! Bienvenue au Café Procopio!

Suasana Debat Café di Paris Abad 16

Bonjour le monde! Bienvenue au Café Procopio!

Alhamdulillah. Syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta karena akhirnya tempat virtual ini bisa juga diwujudkan, mengingat kesibukan yang tak kunjung usai menyita waktu dan perhatian beberapa bulan belakangan ini.

Nama Café Procopio dipilih karena beberapa hal. Pertama, adalah karena obsesi pribadi yang tak berkesudahan untuk membuat sebuah warung kopi; salah satu tempat dimana dinamika pikir, kehendak, tindakan dan keindahan melebur dalam sebuah ruang dan waktu yang sama. Namun, sangat disayangkan, secara fisik dan finansial, tempat itu belum bisa diwujudkan hingga saat ini. Kedua, karena nama ini inspiratif. Inspirasi nama ini muncul ketika kurang lebih setahun yang lalu saya membaca buku karya David Brooks yang terbit pertama kali tahun 2000 dan terus di cetak hingga tahun 2004 yang berjudul Bobos in Paradise: The New Upper Class and How They Got There.

Read more