Ambon, (Bukan) Kota Para Pendatang

Arief Wicaksono

September 4, 2025

Hari ini adalah hari terakhir dari sesi panjang sebuah pelatihan peningkatan kapasitas yang saya ikuti sejak hari Senin, 23 Maret 2015 lalu. Sambil menghempaskan diri di sofa lobby sebuah hotel di bilangan Jl. Imam Bonjol, sejenak saya membebaskan pikiran dari rumitnya materi dan tugas pelatihan dengan mulai menikmati sebatang nikotin dan segelas kafein yang tersedia. Tapi kenikmatan itu ternyata tidak lama, karena semenit berikutnya petugas hotel mendatangi saya dengan menyodorkan selembar nota sambil berkata “bapak…. ini bapak pu bon pesanan kopi yang bapak minum…” Kalimat yang diucapkan dengan dialek Ambon yang kental ini berhasil membuat saya tersenyum dan melupakan pressure diruangan pelatihan tadi. Sayapun mengambil sejumlah uang dari dompet dikantong belakang jins untuk membayar kopi yang ternyata tidak gratis itu.

Ya, saya sedang berada di Kota Ambon, Propinsi Maluku dan ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kota ini. Tidak banyak yang saya tahu tentang Ambon, kecuali beberapa istilah yang sejak kecil memang telah melekat di ingatan seperti ‘ambon manise’, ‘pisang ambon’, atau ‘bika ambon’. Namun anehnya, berbagai istilah itu seolah membuat saya merasa familiar, merasa dekat dengan Ambon, terlebih lagi ketika membicarakan kota ini, saya selalu membayangkan mahasiswa saya yang kebanyakan berasal dari daerah ini, dikampus Universitas Bosowa 45 Makassar (d/h. Universitas 45 Makassar), tempat saya mengabdi. Dalam keseharian mereka dikampus, ada saja celoteh khas a la mereka yang membuat saya tersenyum dan sesekali tertawa terbahak. Menurut saya, ‘Orang Ambon’ adalah orang yang berbudaya, ramah nan suka bercanda, jauh dari stigma sebagai gerombolan eksodus, pionir konflik dan biang kerusuhan seperti yang selama ini dijejalkan pada kita, sejak masa-masa diaspora pertama mereka pada awal Abad Ke-16, ketika VOC – Verenigde Oost-Indische Compagnie – perusahaan nasional Hindia Belanda, semakin menancapkan kuku imperialisme di Indonesia, hingga ke era diaspora terakhir pasca konflik horizontal tahun 1999.

Sambil menyeruput kopi yang masih hangat, imaji tentang Ambon menjadi semakin menggeliat ketika saya membaca sebuah artikel berjudul A City of Migrants: Kota Ambon at the End of the Seventeenth Cetury milik Gerrit Jan Knaap, seorang periset senior sejarah hubungan internasional Belanda di Asia dari Utrecht University, dalam jurnal Indonesia, Vol.51 (April 1991). Pada intinya, artikel itu menggambarkan bahwa sebenarnya dari dulu masyarakat Ambon merupakan kelompok masyarakat migran, dimana jumlah penduduk asli selalu lebih sedikit dari pada jumlah pendatang, “…the immigrant in Kota Ambon is, however, not a modern phenomenon. The city has always had a large proportion of non-Ambonese settlers“, demikian papar Knaap.

 

 

Aahh, dalam diari ini nampaknya saya tidak punya cukup kompetensi untuk ‘menegur’ atau bahkan ‘menantang’ kebenaran artikel G.J. Knaap ini, karena artikel ini sejatinya adalah sebuah hasil riset yang cukup banyak jumlah sitasi-nya. Tapi saya tetap keberatan dengan ungkapan bahwa Ambon adalah kota para pendatang, hanya karena secara kuantitas jumlah penduduk asli tidaklah sebanyak jumlah para pendatang. Dasar keberatan saya jelas, bahwa perkembangan sebuah kota tidaklah bisa diukur hanya dengan banyak-banyakan jumlah pendatang, atau sedikit-sedikitan jumlah penduduk asli, dan bukankah semua kota besar di Indonesia selalu memiliki jumlah penduduk asli yang lebih sedikit dari para pendatang? Atau marilah tengok kota New York di Amerika Serikat misalnya, dari tahun ke tahun jumlah penduduk New York selalu lebih sedikit dari jumlah pendatang. Tapi adakah yang menyebut New York sebagai kota para pendatang? Saya kira tidak ada. New York lebih sering disebut sebagai A City of Hope, the City of Freedom, and absolutely, not the city of migrants.

Tapi ya sudahlah, perspektif Knaap yang sejarawan mungkin obyektif disatu sisi, namun belum tentu relevan disisi lain. Itu biasa saja. Yang jelas dalam beberapa pengalaman subyektif saya selama beberapa hari pelatihan kali ini, orang Jawa, Sunda, Bugis dan Makassar yang saya kenal, selalu ‘terpancing’ untuk ‘menjadi Ambon’, setidaknya dalam beberapa pengucapan dialek sehari-hari.

Hhhmmm… tak terasa, kopi sudah tinggal sepertiga cangkir. Sambil menghisap rokok saya dalam-dalam; saya berpendapat bahwa seperti kota-kota lain yang sedang berkembang, Kota Ambon has always had a unique characteristics of its own. Saya berharap dapat kembali ke kota ini dalam waktu dekat. Semoga.

*Artikel ini pernah diterbitkan oleh situs www.pejalankota.com di tahun 2015.