Asia Timur dikenal sebagai satu-satunya kawasan yang pernah memiliki tingkat laju pertumbuhan ekonomi yang paling fantastis di dunia. Pasca Perang Dunia (PD) II hingga sesaat sebelum Krisis 1997-98, Asia Timur dikenal sebagai sekelompok negara yang menitikberatkan kemajuannya pada sektor industrialisasi, dan oleh Chalmers Johnson, kawasan tersebut disebut sebagai developmental state.[1] Menyitir Johnson, Meredith Woo-Cumings mengatakan bahwa developmental state adalah sebuah jaringan politik, birokrasi dan modal, yang berjalin-kelindan dan mempengaruhi struktur kehidupan ekonomi dalam masyarakat kapitalis di Asia Timur. Developmental state di Asia Timur terbentuk sebagai respon ideosinkretik kawasan tersebut atas kondisi dunia yang didominasi oleh Barat, dengan jalan melakukan berbagai penyesuaian untuk mencapai tingkat perekonomian yang kompetitif dengan menyertakan residual nationalism meskipun dalam konteks global kontemporer saat ini.[2]