Membincang Ulang Desentralisasi di Indonesia

Dalam banyak literatur pembangunan global, desentralisasi adalah istilah yang tidak pernah ajeg. Banyak yang mengira, bahwa desentralisasi adalah upaya untuk memecah batu sentralisasi dalam banyak hal. Ada juga yang mengira bahwa desentralisasi itu semacam upaya untuk berdiri sendiri dan sama sekali tidak terikat dengan entitas sebelumnya. Beberapa pandangan tersebut tidak salah, namun juga kurang tepat … Read more

Merdeka Seratus Persen

Jelang hari kemerdekaan negara ini, ada sebuah kutipan yang kerap dinisbatkan kepada seorang Tan Malaka, salah satu founding fathers kita. Isinya menggambarkan teguran keras kepada para pemimpin republik saat itu, bahwa kemerdekaan tidak boleh hanya menjadi milik elit, sementara rakyat tetap hidup dalam kemiskinan, ketidakberdayaan, dan ketergantungan. Tan Malaka tidak memahami kemerdekaan sebagai kebebasan untuk … Read more

Kota Makassar dan Potensi Krisis Mobilitas Sosial

Arief Wicaksono Pusat Studi Desentralisasi dan Kerjasama Global Universitas Bosowa Dalam diskursus pembangunan ekonomi modern, kelas menengah kerap dipandang sebagai tanda keberhasilan pembangunan. Kelompok ini dianggap berperan sebagai penggerak konsumsi domestik, penyedia tenaga kerja terampil, sekaligus penyangga stabilitas sosial dan politik. Namun, fungsi tersebut dapat melemah ketika kelas menengah mengalami erosi atau middle-class squeeze. Dalam … Read more

Politik Riset dan Peringkat di Indonesia

Arief Wicaksono

Kehadiran dua peraih Nobel, Sir Konstantin Sergeyevich Novoselov dan Professor Brian Schmidt dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang digelar di ITB Bandung pada 8 Agustus 2025 yang lalu (Detik.com, 2025), memberikan kita lebih dari sekadar seremoni dan foto bersama. Kehadiran mereka adalah panggilan untuk membesuk dan menilai kembali bagaimana negara ini … Read more

Krisis Developmentalisme dan Transformasi Neoliberal di Asia Timur

Asia Timur dikenal sebagai satu-satunya kawasan yang pernah memiliki tingkat laju pertumbuhan ekonomi yang paling fantastis di dunia. Pasca Perang Dunia (PD) II hingga sesaat sebelum Krisis 1997-98, Asia Timur dikenal sebagai sekelompok negara yang menitikberatkan kemajuannya pada sektor industrialisasi, dan oleh Chalmers Johnson, kawasan tersebut disebut sebagai developmental state.[1] Menyitir Johnson,  Meredith Woo-Cumings mengatakan bahwa developmental state adalah sebuah jaringan politik, birokrasi dan modal, yang berjalin-kelindan dan mempengaruhi struktur kehidupan ekonomi dalam masyarakat kapitalis di Asia Timur. Developmental state di Asia Timur terbentuk sebagai respon ideosinkretik kawasan tersebut atas kondisi dunia yang didominasi oleh Barat, dengan jalan melakukan berbagai penyesuaian untuk mencapai tingkat perekonomian yang kompetitif dengan menyertakan residual nationalism meskipun dalam konteks global kontemporer saat ini.[2]

 

Read more