Suasana Debat Café di Paris Abad 16

Bonjour le monde! Bienvenue au Café Procopio!

Alhamdulillah. Syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta karena akhirnya tempat virtual ini bisa juga diwujudkan, mengingat kesibukan yang tak kunjung usai menyita waktu dan perhatian beberapa bulan belakangan ini.

Nama Café Procopio dipilih karena beberapa hal. Pertama, adalah karena obsesi pribadi yang tak berkesudahan untuk membuat sebuah warung kopi; salah satu tempat dimana dinamika pikir, kehendak, tindakan dan keindahan melebur dalam sebuah ruang dan waktu yang sama. Namun, sangat disayangkan, secara fisik dan finansial, tempat itu belum bisa diwujudkan hingga saat ini. Kedua, karena nama ini inspiratif. Inspirasi nama ini muncul ketika kurang lebih setahun yang lalu saya membaca buku karya David Brooks yang terbit pertama kali tahun 2000 dan terus di cetak hingga tahun 2004 yang berjudul Bobos in Paradise: The New Upper Class and How They Got There.

Inti buku itu menceritakan kisah tentang kebangkitan kelas terdidik baru Amerika di era informasi yang oleh Brooks disebut sebagai Bobos; Bohemian-Bourgeois, sebuah kelas baru yang terdiri dari gabungan (mixed-up) spirit kaum Bohemian yang lebih dekat dengan dinamika tradisi-moralitas-pengetahuan dan praktik-praktik industrialisme kaum Bourgeois yang bekerja pada korporasi, hidup didaerah sub-urban, dan mereka juga pergi ke institusi religius seperti gereja (Brooks, 2004 : 10). Singkatnya, mereka adalah the new ‘hybrid’ establishment pada kondisi kehidupan sosial dunia yang saat ini pengaturannya lebih ditentukan oleh status, dan strukturnya lebih ditentukan oleh moralitas Bobos.

Secara historis, jejak sejarah dan cikal-bakal Café Procopio yang paling jelas adalah yang berdiri di Paris, Perancis sejak tahun 1686.  Hingga saat ini, café versi asli masih beroperasi di Paris dengan nama Lé Procope. Dari beberapa pajangan artefak, diketahui ditempat itu dulu selalu didatangi oleh kaum Bobos dimasa itu. Beberapa diantaranya adalah Maximillian Robespierre, Victor Hugo, Paul Verlaine, Honoré dé Balzac, Pierre Beaumarchais, Jean-Jacques Rousseau, Alain-René Lesage, George Danton, Jean-Paul Marat, Denis Diderot dan Voltaire. Bahkan Napoleon Bonaparte, Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, John Paul Jones, dan Henry Wadwsworth Longfellow pernah juga menikmati kopi dan gelato (sejenis es krim ala Italia) disana.

Yang menarik, mereka yang disebutkan nama-namanya diatas mengunjungi Lé Procope bukan hanya karena kopi, gelato, atau sajian kuliner lainnya, namun juga karena tertarik melakukan perbincangan dan perdebatan intelektual. Nah, dalam semangat itu pula, blog ini diwujudkan dengan harapan bahwa debat-debat intelektual yang bakal terjadi, masih tetap dalam semangat yang satu, berbagi.

Last but not least, ‘kesederhanaan’ blog ini akan terus diperhatikan dalam perkembangannya. Model, bentuk, konten dan desain yang minimalis dari blog ini sepenuhnya merupakan presentasi dari kekurangpahaman saya terhadap aspek estetis dan teknis yang biasanya melekat dalam sebuah karya. Oleh karena itu, kondisi yang “serba kekurangan” ini adalah sebuah hal yang pasti menimpa siapa saja yang menelusuri café ini.

Saran dan kritik yang konstruktif sangat diharapkan dan dapat disampaikan melalui email admin. Terimakasih.

Salam.

1 thought on “Bonjour le monde! Bienvenue au Café Procopio!”

Leave a Comment