Kejutan Moral sebagai Awal Revolusi

  Arief WicaksonoAkademisi FISIP Universitas Bosowa Sejarah seringkali berubah hanya karena kejadian kecil dan tidak terduga. Itu bukan hanya oleh perjanjian yang dibuat oleh para elit di meja rapat. Pidato heroik dari tokoh-tokoh penting juga tidak selalu menjadi penyebabnya. Tidak jarang, kematian seorang warga biasa, misalnya seorang remaja, mahasiswa, atau pedagang kecil, menjadi titik balik … Read more

Mempersoalkan Perkembangan Ilmu Sosial Indonesia

(Tanggapan atas opini Sdr.Syarifuddin Jurdi, Dekonstruksi Ilmu Sosial Indonesia, Tribun Timur 26 Januari 2012)

Artikel Sdr. Syarifuddin Jurdi tentang kemunduran ilmu sosial di Indonesia pada harian Tribun Timur tanggal 26 Januari 2012, patut mendapatkan apresiasi dan juga respon yang positif dari seluruh stakeholder ilmu sosial di Indonesia. Secara garis besar, pokok pikiran dalam artikel tersebut mencakup beberapa argumentasi tentang,  Pertama, lambatnya perkembangan ilmu sosial di Indonesia bila dibandingkan dengan beberapa negara berkembang yang lain. Kedua, tingginya tingkat ketergantungan akademisi dan peneliti ilmu sosial Indonesia terhadap asupan teoritis dari Barat, yang mana ketika perkembangan ilmu sosial di Barat melemah, maka proyek merumuskan diskursus alternatif ilmu sosial Indonesia, (niscaya akan) mengalami kemacetan. Ketiga,  perlu ditegakkannya kembali bangunan ilmu sosial yang berkarakteristik Indonesia. Jika dicermati sepintas lalu, maka ketiga pokok pikiran dalam artikel tersebut nampaknya linear, memenuhi syarat sebab akibat dan mungkin memang berkaitan dengan realitas sosial di Indonesia seperti yang coba dideskripsikan sdr.Syarifuddin Jurdi.

Namun menurut penulis, artikel tersebut tidaklah sepenuhnya bebas dari masalah. Terdapat beberapa  kontradiksi dalam upaya sdr. Syarifuddin Jurdi mengupas berbagai persoalan yang melekat pada perkembangan (dan pengembangan) ilmu sosial secara umum di Indonesia. Alih-alih ingin memperjelas persoalan, kupasan tersebut justru menimbulkan kebingungan dan memunculkan beberapa pertanyaan antara lain, dalam konteks apa beliau menyebutkan nama-nama seperti Ibn Khaldun, Ismail Raji Al-Faruqi, Ali Syariati, Marx,Geertz, Nakamura dan Hefner? Bukankah nama-nama itu, oleh kalangan awam saja diyakini sebagai sosok yang non-Indonesia?  Jika deretan nama itu disebut dalam konteks orientalisme dan post-kolonialisme, mengapa beliau justru mengakui  keberhasilan kerja-kerja Indonesianis yang, tentu saja mereka adalah non- Indonesia?  Selanjutnya, bagaimana bisa beliau merekomendasikan berdirinya bangunan ilmu sosial a la Indonesia sambil menggunakan atribut-atribut pemikiran post-modern Barat seperti misalnya, discourses (Foucault, 1972, 1977, 1980, 2003) dan deconstruction (Derrida, 1967)? Dari sudut tersebut, jelas tergambar sikap ambivalensi beliau.

Read more