Kultur café (selanjutnya disebut Warkop; Warung Kopi) telah menjadi sebuah bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia modern saat ini. Berbagai kota dihampir seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah-daerah sub-urban seperti ibukota kecamatan telah penuh dijejali oleh Warkop yang kebanyakan berada disetiap sudut dan persimpangan jalan, dan juga didalam warkop-warkop waralaba asing yang banyak menghiasi Mal dan pusat belanja ternama dibanyak kota di Indonesia..
Yup! Otomatis, kopi yang merupakan komoditas utama dari warkop-warkop tersebut juga ikut menjadi sebuah gourmet product dan bahkan menjadi sebuah fashion statement – melenakan. Berhadapan dengan sesuatu yang melenakan, penikmat kopi yang kritis (kritisisme atau sikap kritis sering juga juga dianggap sebagai sebuah identitas masyarakat modern) saat ini pasti bertanya-tanya, tentang asal-muasal dari kopi yang mereka minum, dari racikan biji kopi jenis apa saja yang digunakan, bagaimana racikan itu dicampur, dan bagaimana biji-biji kopi itu diolah. Mengapa mereka bertanya? Karena bagaimanapun juga, kita masih sering melihat banyak orang yang telah membelanjakan begitu banyak uangnya untuk sebuah racikan yang berkualitas rendah dengan campuran biji-biji kopi yang juga berkualitas low-grade.
Menurut pendapat seorang teman yang tidak mau disebutkan namanya, saat ini, masih sangat banyak kalangan yang tidak hirau dengan pentingnya kualitas kopi. “Mereka mengaku fans berat kopi, tetapi mereka tetap meminum kopi yang dihidangkan, meskipun kopi itu hasil racikan ampas olahan jagung,” katanya. “Yang paling parah” lanjutnya, “Begitu mereka menyeruput kopi itu, mereka bergumam, hhhmmm…enaakknya kopi ini.” Teman tadi kemudian menambahkan, “Menurut saya, rasa, kualitas, dan tingkat kesegaran biji kopi harusnya menjadi pemandu utama buat para penggemar kopi untuk memilih pilihan kopinya.”
Well, itu tadi menurut pendapat teman saya. Bagi saya, karena persoalan ini lebih dekat dengan persoalan selera, dan selera adalah persoalan individual, maka saya pikir, kopi yang baik adalah kopi memiliki rasa yang kaya dan kuat, dan selalu meninggalkan kesan tidak membosankan, bahkan setelah kita baru saja meminumnya beberapa saat yang lalu. Tetapi untuk tidak membatasi diri bercerita tentang masalah kualitas kopi saja, sebagai pelengkap saya sekedar ingin berbagi tentang berbagai istilah dasar yang biasa melekat pada bentuk penyajian kopi yang mungkin suatu saat akan kita pesan, karena jangan sampai kita mengaku coffeeholic, tapi masih tetap tidak ngeh ketika pelayan menyodorkan menu tanpa gambar.
Berikut ini adalah istilah-istilah tersebut:
- Espresso: Sajian sedikit kopi hitam yang kental, dan diatasnya biasanya terdapat buih kopi yang terlihat seperti cream. Disajikan dengan cangkir yang bervolume tidak lebih dari 30ml, dan tidak penuh sampai dibibir cangkir.
- Strong Espresso: Sajian double Espresso dengan takaran cangkir yang sama.
- Ristretto: Sajian konsentrat Espresso dengan aroma dan memiliki rasa manis.
- Short Black: Sajian Espresso dengan takaran cangkir yang tetap, tetapi bervolume penuh sampai dibibir cangkir.
- Macchiato: Espresso yang disajikan dengan satu sendok teh susu atau creamer.
- Cappuccino: Sajian Espresso yang menggunakan cangkir besar dengan topping dua jenis susu skim (susu yang dipanaskan dengan derajat suhu tertentu). Proporsi klasik sajian ini terdiri dari sepertiga Espresso, sepertiga kepala susu (residu pertama proses pemanasan susu), dan sepertiga busa susu (residu terakhir proses pemanasan susu).
- Café Latte: Sajian kopi yang terbuat dari Espresso dan empat bagian susu skim.
- Flat White: Sajian standar kopi Espresso dengan susu.
- Vienna Coffee: Sajian secangkir kopi yang terdiri dari duapertiga Espresso, dan di beri topping whipped cream.
- Mocha: Sajian Cappuccino dengan campuran cokelat.
Sumber Gambar: Google.com
Sumber Istilah: Sheridan Rogers, The World in a Cup (2009)
mantabs… keren tulisannya kak. Sa baru tauk jenis kopi macam begini..
Thankyou iccang. Jangan sungkan berbagi ide yah.